Lansia dengan Defisit Perawatan Diri

Disusun Oleh : Muhammad Ananggadipa

Institusi : Stikes Hang Tuah Surabaya

Nim : o81.xx62

 

 

  • Definisi

Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya (Tarwoto dan Wartonah 2000).
Defisit Perawatan Diri adalah Suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan/melewati aktivitas perawatan diri secara mandiri.

Sindrom kurang perawatan diri adalah keadaan dimana individu mengalami suatu kerusakan fungsi motorik atau fungsi kognitif yang menyebabkan penurunan kemampuan untuk melakukan masing-masing dari kelima aktivitas perawatan diri (Carpenito,2000) yang meliputi :

1) Kurang perawatan diri : makan.

2) Kurang perawatan diri : mandi/higiene.

3) Kurang perawatan diri : berpakaian/berdan dan,

4) Kurang perawatan diri : instrumental.

Personal higiene atau kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Dampak fisik banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Dampak psikososial yang berhubungan dengan gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial (Tarwoto,2003).

 

  • Etiologi 

Menurut Tarwoto dan Wartonah (2000) penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut:

  1. Kelelahan fisik
  2. Penurunan kesadaran

Menurut Depkes (2002:20), penyebab kurang perawatan diri adalah:

  1. Faktor predisposisi
    1. Perkembangan
      Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu.
    2. Biologis
      Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.
    3. Kemampuan realistis turun

Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.

  1. Sosial
    Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.

2.7  Faktor presipitasi

Yang merupakan faktor presipitasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah / lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.

Menurut Depkes (2000 : 59) faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah :

  1. Body image

Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri, misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.

  1. Praktik sosial

Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri maka kemungkinan akan terjadi perubahan pada personal hygiene.

  1. Status sosial ekonomi

Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampoo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.

  1. Pengetahuan
    Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
  2. Budaya
    Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
  3. Kebiasaan seseorang

Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, shampoo dan lain – lain.

  1. Kondisi fisik atau psikis

Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya. Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene:

1)      Dampak fisik

Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.

2)      Dampak psikososial

Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

 

  • Manifestasi Klinis

Menurut Depkes (2000:20) tanda dan gejala klien dengan deficit perawatan diri adalah:

1. Fisik

  1. Badan bau, pakaian kotor
  2. Rambut dan kulit kotor.
  3. Kuku panjang dan kotor
  4. Gigi kotor disertai mulut bau
  5. Penampilan tidak rapi

2. Psikologis

  1. Malas, tidak ada inisiatif
  2. Menarik diri, isolasi diri
  3. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina

3. Sosial

  1. Interaksi kurang
  2. Kegiatan kurang
  3. Tidak mampu berperilaku sesuai norma
  4. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB disembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.

 

  • Mekanisme Koping
  1. Regresi

Kemunduran akibat stress terhadap perilaku dan merupakan cirri khas dari suatu taraf perkembangan yang lebih dini.

  1. Penyangkalan
  2. Isolasi diri, menarik diri

Disini isolasi diri adalah pemisahan unsure emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat bersifat sementara atau dalam jangka waktu yang lama.

  1. Intelektualisasi

Pengguna logika dan alasan berlebihan untuk menghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya.

  • Rentang Respon Kognitif

Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat diri sendiri adalah:

  1. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri
  2. Bina hubungan saling percaya.
  3.  Bicarakan tentang pentingnya kebersihan.
  4. Kuatkan kemampuan klien merawat diri.
  5. Membimbing dan menolong klien merawat diri.
    1.  Bantu klien merawat diri
    2. Ajarkan ketrampilan secara bertahap
    3. Buatkan jadwal kegiatan setiap hari
    4. Ciptakan lingkungan yang mendukung
      1. Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi.
      2. Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien.
      3. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien misalnya, kamar mandi yang dekat dan tertutup.

 

ASUHAN KEPERAWATAN

  • Pengkajian

1. Identitas klien

Nama

Jenis kelamin

Umur

Alamat

Status

2. Riwayat kesehatan

  1. RKS :lelah,badan bau,rambut kotor dan pemalas
  2. RKD : apakah pernah sebelumnya mengalami deficit perawatan diri,dan apa-apa saja cara yang digunakan untuk mengatasi masalah ini.
  3. RKK : adakah keluarga mengalami deficit perawatan diri sebelumnya.
  4.  Keluhan utama

Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri,Defisit perawatan diri dan Isolasi Sosial

 

  • Analisa Data

Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah :

  1. Data subyektif
    1. Klien mengatakan dirinya malas mandi karena airnya dingin atau di RS tidak tersedia alat mandi.
    2. Klien mengatakan dirinya malas berdandan.
    3. Klien mengatakan ingin di suapi makan.
    4. Klien mengatakan jarang membersihkan alat kelaminnya setelah BAK atau BAB.
    5. Pasien merasa lemah
    6. Malas untuk beraktivitas
    7. Merasa tidak berdaya.

 

  1. Data obyektif
    1. Ketidakmampuan mandi/membersihkan diri ditandai dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki, dan berbau, serta kuku panjang dan kotor.
    2. Ketidakmampuan berapakaian/berhias ditandai dengan rambut acak-acakan, pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, tidak bercukur (laki-laki), atau tidak berdandan (wanita).
    3. Ketidakmampuan makan secara mandiri ditandai dengan ketidakmampuan mengambil makan sendiri
    4. Ketidakmampuan BAB/BAK secara mandiri ditandai BAB/BAK tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB/BAK
    5. Rambut kotor, acak – acakan
    6. Badan dan pakaian kotor dan bau
    7. Mulut dan gigi bau.
    8. Kulit kusam dan kotor
    9. Kuku panjang dan tidak terawat

 

  • Diagnosa Keparawatan

Menurut Depkes (2000: 32) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien defisit perawatan diri yaitu:

1.   Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri

2.   Defisit perawatan diri.

3.   Isolasi Sosial.

 

  • Intervensi Keperawatan

Diagnosa keperawatan: penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri.
Tujuan Umum

Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk memperhatikan kebersihan diri.
Tujuan Khusus

TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Kriteria evaluasi

Dalam berinteraksi klien menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat:

  1. Wajah cerah, tersenyum
  2. Mau berkenalan
  3. Ada kontak mata
  4. Menerima kehadiran perawat
  5. Bersedia menceritakan perasaannya

Intervensi :

a. Berikan salam setiap berinteraksi.

b. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan.

c. Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien.

d. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.

e. Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien.

f. Buat kontrak interaksi yang jelas.

g. Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati.

h. Penuhi kebutuhan dasar klien.

TUK II : klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri.
Kriteria evaluasi

Klien dapat menyebutkan kebersihan diri pada waktu 2 kali pertemuan, mampu menyebutkan kembali kebersihan untuk kesehatan seperti mencegah penyakit dan klien dapat meningkatkan cara merawat diri.

Intervensi:

  1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.
  2. Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara menjelaskan pengertian tentang arti bersih dan tanda- tanda bersih.
  3. Dorong klien untuk menyebutkan 3 dari 5 tanda kebersihan diri.
  4. Diskusikan fungsi kebersihan diri dengan menggali pengetahuan klien terhadap hal yang berhubungan dengan kebersihan diri.
  5. Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan memelihara kebersihan diri.
  6. Beri reinforcement positif setelah klien mampu mengungkapkan arti kebersihan diri.
  7. Ingatkan klien untuk memelihara kebersihan diri seperti: mandi 2 kali pagi dan sore, sikat gigi minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum tidur), keramas dan menyisir rambut, gunting kuku jika panjang.

TUK III : Klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat.
Kriteria evaluasi

Klien berusaha untuk memelihara kebersihan diri seperti mandi pakai sabun dan disiram pakai air sampai bersih, mengganti pakaian bersih sehari–hari, dan merapikan penampilan.

Intervensi:

  1. Motivasi klien untuk mandi.
  2. Beri kesempatan untuk mandi, beri kesempatan klien untuk mendemonstrasikan cara memelihara kebersihan diri yang benar.
  3. Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari.
  4. Kaji keinginan klien untuk memotong kuku dan merapikan rambut.
  5. Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk pengelolaan fasilitas perawatan kebersihan diri, seperti mandi dan kebersihan kamar mandi.
  6. Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan fasilitas kebersihan diri seperti odol, sikat gigi, shampoo, pakaian ganti, handuk dan sandal.

TUK IV : Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri.
Kriteria evaluasi

Setelah satu minggu klien dapat melakukan perawatan kebersihan diri secara rutin dan teratur tanpa anjuran, seperti mandi pagi dan sore, ganti baju setiap hari, penampilan bersih dan rapi.

Intervensi:
Monitor klien dalam melakukan kebersihan diri secara teratur, ingatkan untuk mencuci rambut, menyisir, gosok gigi, ganti baju dan pakai sandal.

TUK V : Klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri.

Kriteria evaluasi

Klien selalu tampak bersih dan rapi.

Intervensi
Beri reinforcement positif jika berhasil melakukan kebersihan diri.

TUK VI : Klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan diri.
Kriteria evaluasi:

Keluarga selalu mengingatkan hal–hal yang berhubungan dengan kebersihan diri, keluarga menyiapkan sarana untuk membantu klien dalam menjaga kebersihan diri, dan keluarga membantu dan membimbing klien dalam menjaga kebersihan diri.
Intervensi:

  1. Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga kebersihan diri.
  2. Diskusikan bersama keluarga tentang tindakanyang telah dilakukan klien selama di RS dalam menjaga kebersihan dan kemajuan yang telah dialami di RS.
  3. Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi stimulasi terhadap kemajuan yang telah dialami di RS.
  4. Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana yang lengkap dalam menjaga kebersihan diri klien.
  5. Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan diri.
  6. Diskusikan bersama keluarga cara membantu klien dalam menjaga kebersihan diri
  7. Diskusikan dengan keluarga mengenai hal yang dilakukan misalnya:
  8. mengingatkan pada waktu mandi, sikat gigi, mandi, keramas, dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA

 

About these ads

Tentang Andi (Nurse Boy)

AKU TUH ASIK BANGET PRIBADINYA (kalo udah tau sela nya), APA ADANYA, CARE, & YANG PASTI-PASTI AJA LAAAAH... :)
Tulisan ini dipublikasikan di LAPORAN PENDAHULUAN BESERTA ASUHAN KEPERAWATAN. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s